Puteri Adena

Puteri Adena

Adena terpejam menikmati hangatnya dekapan Damian, lelaki yang dicintainya.

"Apakah kau sungguh mencintaiku?" Pertanyaan Damian membuat Adena menengadah memandang Damian.

"Kau ingin bukti?" Adena balik bertanya. Damian tak menjawab. Hanya melepaskan pelukannya. Lalu kedua tangannya membelai lembut pipi Adena,  menatap wajah gadis itu lekat-lekat.

"Aku percaya padamu." Damian mendaratkan satu kecupan di kening Adena, kemudian memeluk kembali gadis itu lebih erat, seolah tak ingin melepaskan. 

"Setiap malam aku akan turun ke bumi untuk menemuimu," ujar Adena lirih, masih dalam pelukan Damian.

"Aku rela terusir dari khayangan hanya untuk bisa bersamamu," jelas Adena. "Aku rela menanggalkan keputerianku demi dirimu."

"Aku tak perlu sayap ini untuk terbang, dekat denganmu saja sudah membuatku melayang." Kedua sayap Adena melemah dalam rengkuhan Damian.

Pagi hampir menjelang. Dari ufuk timur muncul pasukan khayangan menaiki kuda terbang. Mereka bersiap menjemput Puteri Adena untuk kembali ke khayangan. Kepergian Adena secara diam-diam dari khayangan telah diketahui Dewa Zeus, ayahanda Puteri Adena. 

#InfinityLovink
#writerandauthor
#titindeandiva
#TeeDee
#TeeDeandria


Kutukan Negeri Awan


Part 2

Berdua, mereka membelah malam menyusuri jalan saling menggenggam erat, menjauhi keramaian. Sebuah bangunan tua menjadi tujuan mereka. Bangunan tua itu berwarna abu pupus berdaun pintu besar di tengahnya, dilengkapi dengan cerobong asap yang tinggi.

Begitu berada di balik pintu besar itu, suasana hangat menghampiri. Perapian yang menyala menebarkan aroma kayu yang terbakar. Pangeran Drew menatap sekeliling, memutari ruangan itu dengan matanya. Semua perabotnya unik, beberapa pigura tergantung di dinding.

"Duduklah dulu, aku akan mengambil sesuatu di atas." Carissa kemudian berlalu menaiki anak tangga meuju lantai atas.

"Apa kau mencari ini?" Suara Carissa memecah lamunan Pangeran Drew. Ia mengulurkan jemarinya yang terbuka, ada sebuah liontin terbuat dari batu permata bening berbentuk oval yang dibingkai dengan hiasan perak.

"Ya, ini persis seperti yang diceritakan Theo padaku. Bisakah kau menolong Ibundaku? Dia membutuhkan pertolonganmu."

"Tentu saja, aku juga ingin bertemu Theo. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Tapi bagaimana caranya aku pergi ke Negeri Awan?"

"Bersamaku," jawab Pangeran Drew. Ia kemudian membungkuk dan menunduk. Tiba-tiba saja muncul sayap dari kedua punggung Pangeran Drew. Pakaian yang tadi menutupi tubuhnya telah hilang, berganti sehelai kain berwarna putih yang hanya melingkar di bahunya.

Sayap putihnya mengembang. Pangeran Drew menerbangkan tubuhnya mendekati Carissa yang masih terpana dengan perubahannya. Dengan mudahnya ia membopong Carissa ke dalam pelukannya. Kini giliran Carissa yang bak terhipnotis, ia menurut saja berada dalam pelukan Pangeran Drew.

"Berpeganganlah, kita akan terbang menuju Negeri Awan," pinta Pangeran Drew. Tanpa ragu Carissa melingkarkan kedua lengannya di leher Pangeran Drew. Sesaat mereka beradu pandang, menyelami apa yang ada di balik kedua bola mata masing-masing.

"Kau siap, Carissa?" Tak ada jawaban, hanya anggukan kecil sebagai penanda. Suara kepakan kedua sayap terdengar memecah keheningan malam, di bawah sinar rembulan mereka terbang menukik menuju Negeri Awan. Pangeran Drew makin merapatkan dekapannya, berharap bisa menghangatkan Carissa di malam yang dingin.

To be continue


#InfinityLovInk
#WnAGroup
#FFchallenge
#RomanceFantasy
#Day2
#titindeandiva
#TeeDee
#TeeDeandria

Hanya Aku

Hanya Aku

Apa hanya aku yang begini
Menanti tanpa pasti
Menunggu dalam sunyi

Apa hanya aku yang seperti ini
Berharap kau datang kembali
Mengembalikan separuh hati

Apa hanya aku yang diam menyendiri
Berteman dengan malam hari
Bersama menanti pagi

Apa hanya aku yang merasa sepi
Tersudut di luasnya bumi
Beku di bawah sinar mentari

Apa hanya aku yang terus berlari
Mengejar bayangmu, hei lelaki
Tanpa tahu kapan harus berhenti 

Apa hanya aku yang masih mencari
Alasan untuk tak beranjak pergi
Atas nama ikrar cinta abadi

Apa hanya aku yang hidup serasa mati
Bernapas tanpa punya arti
Terbenam dalan alunan mimpi

Apa hanya aku yang kuat berdiri
Menyanggah teguhnya prasasti
Agar tak runtuh untuk kesekian kali

Apa hanya aku yang menanggung rugi
Kurangkah air mata yang kuberi
Sebagai penebus cinta yang kubeli

Apa hanya aku yang sakit di sini
Menyesak di relung sanubari
Terbakar oleh rindu yang berapi-api

Aku lelah menanti, aku lelah merugi
Aku lelah memberi, aku lelah mengerti
Aku lelah dibodohi, aku lelah disakiti

Aku lelah hayati dan ragawi
Aku lelah menjadi tak berarti
Tapi tak kuasa melepasmu pergi

#titindeandiva
#TeeDee
#TeeDeandria

Pesan dari Turnus

Pesan dari Turnus


"Panggilan video dari Turnus, Jenderal."

"Sambungkan ke layar utama," perintah sang Jenderal seraya mengibaskan rambut hitam sebahunya, saat berbalik arah menghadap layar besar yang ada di Markas Pertahanan Bumi.

"Salam dari Planet Tarnus, Jendral Eve," sapa seseorang dari layar besar sembari menundukkan kepalanya, memberi hormat.

"Salam dari Planet Bumi, Pangeran Arthur," balas Jenderal Eve, juga memberi hormat, "ada berita apa, Pangeran Arthur?"

"Kami akan melakukan perjalanan ke Bumi pekan depan, untuk membahas pertahanan antar planet kita."


*satu minggu kemudian*

Setelah rapat usai, Pangeran Arthur kembali ke Istana Para Tamu, menuju kamarnya untuk beristirahat.

"Bagaimana rapatnya, Sayang?" Suara Jenderal Eve memenuhi ruangan besar itu. Ia tengah duduk menata rambut hitamnya di depan cermin hias besar yang berada di tepi ruang.

"Seperti biasa, membosankan," sahut Pangeran Arthur sembari merangkulkan tangannya ke pinggang Jenderal Eve dari belakang, "aku kemari hanya untuk menemuimu." Tatapan mesranya terpantul dari cermin besar, membuat Jenderal Eve tersipu malu.

"Aku merindukanmu, Sayang ... ." Pangeran Arthur membisikkan kata itu tepat di telinga Jenderal Eve. Pipi Jenderal Eve kembali merona merah, senada dengan warna gaun yang dikenakannya.


#Infinitylink
#Wnagroup
#FFchallenge
#Romancefantasy
#day1
#titindeandiva
#TeeDee
#TeeDeandria

Kutukan Negeri Awan

Kutukan Negeri Awan

Part 1


Pangeran Drew menatap jauh ke bawah, pada hamparan hijau yang jauh berada di bawah.

Niatnya sudah bulat untuk turun ke bumi, mencari Sang Penuntun. Tabib istana Negeri Awan sudah mengatakan bahwa di bumilah tempat tinggal Sang Penuntun. Dengan bantuannya, dia dapat menemukan obat bagi Yang Mulia Ibu Suri Snowla.  

Dengan satu jentikan jari, Pangeran Drew sudah berada di bumi. Ia mengamati sekeliling, bangunan tinggi menjulang berada di kanan dan kiri. Ramai kendaraan berlalu lalang di jalan utama.

Brakkk!
Tubuh Pangeran Drew tertabrak sesuatu dari arah belakang. Sontak ia berpaling dan mendapati seorang gadis berambut coklat keemasan. Rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya.

"Maaf, maaf. Aku buru-buru tadi. Maaf ya."

"Kamu, Carissa?"

"Kita pernah bertemu sebelumnya, ya?" gadis itu balik bertanya.

"Aku mengenalmu dari seseorang."

"Theo? Apakah dari dia?" gadis itu kembali bertanya. Pangeran Drew hanya mengangguk. 

"Aku sudah lama menantimu, Drew. Ayo kita pergi. Tak aman berada di luar sini terlalu lama." Carissa mengulurkan tangan pada Pangeran Drew. Bagai terhipnotis tanpa ragu ia meraih uluran tangan gadis yang bernama Carissa, lalu pergi mengikutinya.

Berdua, mereka membelah malam menyusuri jalan saling menggenggam erat, menjauhi keramaian. Dari belakang Pangeran Drew mengawasi Carissa, ia mirip sekali dengan Putri Aurelia, tunangannya. Tapi Carissa, Sang Penuntun ini, lebih memesona, juga beribawa. Mampu menghadirkan senyum di wajah tampan Pangeran Drew, yang telah lama muram. Ia kemudian mensejajarkan langkahnya agak berdampingan dengan Carissa, menikmati keanggunan gadis itu di bawah sinar rembulan.

To be continue


#Infinitylink
#Wnagroup
#FFchallenge
#Romancefantasy
#day1
#titindeandiva
#TeeDee
#TeeDeandria

Ramadhan

Ramadhan Kecil


Part 1

Titin kecil melangkah ringan menyusuri tepi jalan berbatu. Gelapnya malam tak menghalangi langkah kecilnya. Lalu ia menyeberang ke seberang jalan. Di seberang sana telah ada teman-teman sepermainannya, telah menunggunya sembari melambaikan tangan, memanggil agar ia segera tiba di seberang.

Gadis kecil itu berumur tujuh tahun. Memakai mukena putih dengan hiasan bunga-bunga kecil di bagian belakang. Sarung dan sajadahnya hanya dijepit di balik lengan mungilnya. Senyum tak lepas dari wajahnya, mata kecil itu semakin menyipit.

Sepanjang jalan menuju mushola Al Qhofur, ia berbincang dengan teman-temannya untuk menunaikan ibadah shalat isya dan shalat tarawih. Malam ini adalah malam pertama tarawih, itu sebabnya sepanjang jalan ramai pejalan kaki menuju mushola.

Tak jauh memang jarak dari rumah menuju mushola, hanya sekitar lima menit dengan berjalan kaki. Sesampainya di sana, ia menuju pancuran untuk berwudhu. Sambil bercengkrama, tentunya. Canda tawa tak lepas menghiasi suasana. Sesekali percikan air yang disengaja, semakin meriuhkan malam.

Lantunan suara azan membuyarkan mereka dari pancuran, berlarian menuju mushola. Lalu berlomba-lomba mencari syaf. Di pojok belakang. Ya, itu sudah tradisi buat mereka. Dan kembali keriuhan terjadi, perebutan tempat mengurai sajadah terjadi.

Titin kecil terpaksa mengalah, hanya mendapat tempat ke empat dari pojokan mushola. Wajahnya sedikit kesal, ia gagal meraih tempat terbaik. Tapi tempatnya saat ini lumayan menguntungkan, semilir angin dari luar sesekali berhembus dari jendela yang ada di belakangnya.

Besok ia akan pergi lebih cepat, niatnya dalam hati. Ia ingin berada di pojokan. Baginya itu tempat terindah. Bagaimana tidak? Jika ia lelah, ia bisa menyandarkan tubuhnya pada dinding mushola. Bahkan jika itu dalam keadaan shalat, hehe.

To be continue


#memoar
#ramadhan
#titindeandiva
#TeeDee
#TeeDeandria 

Hujan

Hujan

Gemericik air berjatuhan
Bersatu dengan semilir angin
Dinginnya menyapa tepi gaun
Merasuk dalam menjulur ke ubun

Aku meringkuk di ujung dipan
Menyentuh lembut ujung pipi kanan
Menyapu helai rambut yang tak beraturan
Yang dulu biasa engkau lakukan

Hujan ini mengingatkanku pada belaian
Kala kau menyentuhku perlahan
Menarikku dalam hangat dekapan
Dan kau mengelus pipiku yang dingin

Tapi kini kau tak di sisi sejak kemarin
Engkau pergi untuk sebuah impian
Tinggallah aku terpuruk dalam kesendirian
Memeluk engkau di dalam angan

Dibalik rintik berisik air yang berjatuhan
Kutitip rindu senyap yang tak tertahan
Kuharap bisa tersampaikan lewat lantunan
Denting air yang jatuh dari pancuran

#puisi
#rindu 
#poetry
#titindeandiva
#TeeDee

Rejeki

Rejeki

"Nduk, rejeki itu kuasaNya Gusti Allah. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Selebihnya biarkan menjadi rahasia."

Aku hanya terdiam memandang layar ponselku sembari membaca chat di grup whatsapp-ku. Di sana mereka sedang berbincang soal rejeki yang di-tikung.

#rejeki
#flashfiction
#writerandauthor
#titindeandiva
#TeeDee
#tnb23

Anti Gagal, Yuk Cobain Resep Ayam Kremes ini!

Ayam merupakan olahan yang paling diminati, baik oleh anak-anak maupun orang tua. Tak heran jika banyak sekali sajian berbahan dasar ayam.  ...