Ramadhan Kecil
Part 1
Titin kecil melangkah ringan menyusuri tepi jalan berbatu. Gelapnya malam tak menghalangi langkah kecilnya. Lalu ia menyeberang ke seberang jalan. Di seberang sana telah ada teman-teman sepermainannya, telah menunggunya sembari melambaikan tangan, memanggil agar ia segera tiba di seberang.
Gadis kecil itu berumur tujuh tahun. Memakai mukena putih dengan hiasan bunga-bunga kecil di bagian belakang. Sarung dan sajadahnya hanya dijepit di balik lengan mungilnya. Senyum tak lepas dari wajahnya, mata kecil itu semakin menyipit.
Sepanjang jalan menuju mushola Al Qhofur, ia berbincang dengan teman-temannya untuk menunaikan ibadah shalat isya dan shalat tarawih. Malam ini adalah malam pertama tarawih, itu sebabnya sepanjang jalan ramai pejalan kaki menuju mushola.
Tak jauh memang jarak dari rumah menuju mushola, hanya sekitar lima menit dengan berjalan kaki. Sesampainya di sana, ia menuju pancuran untuk berwudhu. Sambil bercengkrama, tentunya. Canda tawa tak lepas menghiasi suasana. Sesekali percikan air yang disengaja, semakin meriuhkan malam.
Lantunan suara azan membuyarkan mereka dari pancuran, berlarian menuju mushola. Lalu berlomba-lomba mencari syaf. Di pojok belakang. Ya, itu sudah tradisi buat mereka. Dan kembali keriuhan terjadi, perebutan tempat mengurai sajadah terjadi.
Titin kecil terpaksa mengalah, hanya mendapat tempat ke empat dari pojokan mushola. Wajahnya sedikit kesal, ia gagal meraih tempat terbaik. Tapi tempatnya saat ini lumayan menguntungkan, semilir angin dari luar sesekali berhembus dari jendela yang ada di belakangnya.
Besok ia akan pergi lebih cepat, niatnya dalam hati. Ia ingin berada di pojokan. Baginya itu tempat terindah. Bagaimana tidak? Jika ia lelah, ia bisa menyandarkan tubuhnya pada dinding mushola. Bahkan jika itu dalam keadaan shalat, hehe.
To be continue
#memoar
#ramadhan
#titindeandiva
#TeeDee
#ramadhan
#titindeandiva
#TeeDee
#TeeDeandria
No comments:
Post a Comment