Menghilangkan trauma Anak Karena Sering Dibentak

Pernahkah membentak anak kecil atau anak sendiri, Mak? ayo, jujur, hehe. Pasti jawabannya iya, huhu. Beberapa malah ngaku sering membentak anak sendiri, termasuk saya, hiks. Jangan dicontoh ya, Mak! Apalagi kalau tahu bentakan kita akan memberikan trauma bagi anak. 

Gak mau kan, anak menderita trauma karena sering dibentak oleh Emak. Siapa sangka suara tinggi yang kita lontarkan bisa memberi efek buruk pada anak. 

pernah kepikiran buat menghilangkan semua trauma itu? Lalu bagaimana cara untuk menghilangkan trauma anak karena sering dibentak? 

Mak, mulailah mengontrol emosi agar tak selalu berbicara dengan nada membentak. Ini cara paling awal yang harus Emak lakukan. Mulailah dari diri sendiri, sebelum memulai ke anak. Tahan amarah agar tak lepas kontrol.

pada anak, beri mereka arahan jika salah. Jangan langsung memngeraskan suara pada mereka. Anak tidak mengerti, yang mereka lalukan salah atau benar. Tugas kita, sebagai ibu, yang mengajarkan salah dan benar. tentu saja dengan cara yang benar pula. 

Jika masih saja mengulang kesalahan yang sama, berikan contoh. Jadilah role mode bagi anak ya, Mak. Stimulus anak dengan memberikan contoh. sekali lagi, jangan dengan nada tinggi yang justru akan membuat anak semakin memberontak. 

Bersabar. Ini memang gak mudah, Mak. Memperbaiki apa yang sudah kita tanamkan, memang berat. Berilah anak pengertian, terus menerus. 

Sesekali biarkan mereka dengan dunianya. Jangan terlalu mengekang mereka. Jika Emak mulai kesal, sebaiknya pergi ke ruangan lain. Lakukan apa yang membuat Emak tenang. setelah tenang, barulah kembali menyapa dengan penuh kasih. 

Perlakukan anak dengan semestinya. Mereka masih kecil dan rapuh. Jangan mendidiknya dengan keras, jika tak ingin nantinya menjadi pribadi yang keras juga. Berikan limpahan kasih sayang, agar mereka lupa bahwa mereka pernah menerima bentakan. 

ubahlah kebiasaan Emak yang sering bercakap dengan nada tinggi. Berlembut hatilah pada anak. Kelak mereka akan melakukan hal yang sama pada kita. 

#KompetisiMenulis 
#AlumniKabolMenulis 
#Day27 
#titindeandiva 

Membalut Luka Hati

Membalut Luka Hati



“Jangan bermain api jika tak ingin terbakar.”
“Jangan bermain hati jika tak ingin terluka.”

Jika saja aku tahu akan seperti ini, aku tak akan pernah membiarkan hatiku ikut serta. Tapi nyatanya, takdir membawaku pada realita yang menyakitkan. Melukai hati ini. Yang telah susah payah kuhadiahkan padamu.

Aku pernah terluka. Dalam. Hingga merasa tak mampu ‘tuk bangkit kala itu. Perih…. Bahkan mengingatnya saja bisa membuatku menitikkan bulir bening. Aku pikir waktu akan menyembuhkan. Nyatanya tidak.

Para pujangga sering berkata, “Waktu adalah obat segala luka.” Common, itu hanya seuntai kata pemanis. Buktinya, luka ini masih terasa perih walau telah lama berlalu. Setidaknya ada sedikit rasa nyesek jika mengingatnya. Atau hanya aku yang gagal move on?

                                                          *****


Cukup curahan hatinya, hiks. Kalau diteruskan bisa baper akut, haha. Secara, berdarah-darah banget booo. Gak usah tanya mengapa, ntar aku curhatnya makin mulus kayak wajah model iklan yang glowing itu.

Tapi memang, semua hal yang berhubungan dengan hati akan lama sembuhnya. Apalagi buat beberapa tipe yang lembut hatinya kayak saya #eaaaa Jangan pada mules ya, wkwkwk.

Menjaga hati tetap utuh bukan perkara mudah. Apalagi jika telah teriris luka. Perlu jiwa dan raga yang siap untuk meninggalkan masa lalu. Dan itu tak mudah. Bayangan masa lalu yang perih itu, yang ingin dilupakan, bisa saja diam-diam hadir di antara tawa yang mulai terkembang. Bisa saja hadir tanpa diundang di alam mimpi. Seolah kembali nyata.

Berdamailah dengan hatimu. Ajak ia duduk bersama. Tanyakan yang ingin kau tanyakan. Mengapa harus begini? Mengapa terjadi setelah senyaman ini? Mengapa harus sekarang? Tanyakan saja, tanyakan. Puaskan hatimu dengan jawaban dari relung hati terdalam. Jangan ajak emosi duduk bersama. Emosi itu, biarkan ia duduk di ruang lain, membodohi diri sendiri.

Temukan jawaban yang sejujurnya, bukan yang kau ingin dengar. Tentu hatimu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya terkadang emosi dan luka suka melebih-lebihkan. Membuat keadaan begitu buruk, seakan dunia runtuh.

Bukan, ini bukan tentang orang lain. Ini tentangmu. Tentang pribadimu. Jangan coba menyalahkan orang lain. Sudahkah kau berbenah diri setelah luka itu datang mencabik-cabik hatimu? Sudahkah kau memperlakukan dirimu dengan adil. Membiarkan pribadimu bahagia. Mengizinkan untuk memaafkan dirimu sendiri.

Hati, yang lemah itu, bila tak  kau jaga akan mudah sekali membeku. Akan menjadi kaku. Lalu kemudian mati rasa. Itukah yang kau inginkan? Mematikan bagian dari dirimu? Oh, common, kau lebih berharga dari sekerat luka itu. Perihnya hanya akan hadir sejenak, tak akan lama. Sibukkan dirimu dengan hal-hal baru.

Perlahan, kau akan menyadari dunia lebih indah. Hari buruk itu akan berlalu. Sakitnya mungkin akan sesekali terasa. Mendesirkan relung hati. Tak apa. Setiap luka yang akan membaik memang akan meninggalkan sedikit perih. Terus saja bubuhkan obat pelipur lara. Coba, pandangi wajahmu itu di depan cermin. Tanyakan, pantaskah kau untuk terus berduka akan masa lalu? Haruskah terus menghukum diri dengan kesedihan. Setelah itu, cobalah tersenyum. Rasakan tarikan seulas senyum itu. Senyum yang lama hilang dari wajahmu.

Pantaskan dirimu untuk berbahagia. Hidup untuk terus dilalui, kan? Dunia tak menunggumu siap, ia terus berputar tanpa menunggu siapa pun. Jangan sampai kau tertinggal, lalu kemudian menyesal. Please, jangan. Jangan perburuk masa depanmu hanya karena urusan hati. Kendalikan hatimu, sebisamu. Lelah pasti datang bertandang kala mencoba tegar. Berjuanglah, demi masa depanmu yang bertabur kebahagiaan.


Berdamailah dengan hati. Biarkan yang lalu, berlalu. Mulailah melangkah menata masa depan. Jadikan perih di masa lalu menjadi pengingat. Tak perlu terlalu sering menatap ke belakang, foukuslah melihat ke depan. Oh hati, menguatlah. Menguatlah! 

#infinityLovInk 
#WnA 
#GAjumat 
#titindeandiva 

Mengenalkan Anak Pada Pekerjaan Rumah Tangga

Mengenalkan Anak Pada Pekerjaan Rumah Tangga

Perlukah mengenalkan anak pada pekerjaan rumah tangga, Mak? Perlukah anak dibimbing dan diajarkan perihal urusan menyapu, mengepel, mencuci piring, dan pekerjaan khas emak-emak, Mak?

Pasti emakers langsung nyaut kenceng, "Perlu!" Girang bener si Emak, hehe. Yuppp, mengenalkan anak pada pekerjaan rumah tangga memang diperlukan. Karena, selain mendidik anak agar mandiri, juga bisa membantu meringankan beban emak. Bener apa bener banget, Mak. Hihi.

Lalu pada usia berapa mengenalkan anak pada pekerjaan rumah tangga? Menanamkan kebiasaan akan lebih baik jika dimulai sejak dini. Tularkan kebiasaan mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini, jika anak mulai menunjukkan kemampuan untuk melakukannya.

Karena kemampuan anak untuk meniru dan melakukan sesuatu tidak sama, maka patokan usia bisa emak nilai sendiri.

Saya sendiri mulai mengenalkan pekerjaan rumah tangga dimulai pada usia 5 tahun. Di usia ini hanya tahap pengenalan ya, Mak. Biarkan anak ketika ikut membantu mencuci piring. Biarkan saat anak ikut menjemur cucian atau melipat baju.

Seiring bertambah usia, anak akan makin mengerti. Sesekali ajak anak berbincang ketika melakukab pekerjaan rumah tangga. Katakan tips dan trik mengerjakan pekerjaan itu.

Kalau emak, usia berapa mulai mengenalkan pekerjaan rumah tangga pada si Kecil, Mak?

#KompetisiMenulis
#AlumniKabolMenulis
#day26
#titindeandiva

Ajarkan ini Pada Anak Sejak Dini

Mendidik anak sudah menajdi kewajiban bagi setiap ibu. Karena ibu adalah madrasah bagi anak mereka.

Pernah merasa bingung cara mendidik anak, Mak? Saya pernah mengalami ini, tepatnya untuk anak saya yang beranjak remaja. Karena mendidiknya pasti akan beda dengan mendidik anak usia batita atau balita.

Tapi pada dasarnya, mendidik anak usia pra remaja, kisaran usia 8 hingga 13 tahun, adalah pendidikan lanjutan. Yang terpenting adalah dasarnya, ketika anak berusia 0 bulan hingga 7 tahun.

Pada usia dasar, 0 bulan hingga 7 tahun, adalah usia paling tepat untuk mendidik anak. Menanamkan hal-hal baru pada usia dini lebih mudah untuk diingat.

Bagi saya, menanamkan budi pekerti yang baik menduduki urutan pertama. Tanamkan budi pekerti yang baik bedasarkan agama.

Ajarkan anak mengenal Tuhan dan mencintai sesama. Beri anak contoh, karena pada usia dini, anak lebih mudah mencontoh orang tua mereka.

Jika budi pekerti telah diajarkan dengan baik di usia dini, insyaallah, di usia pra remaja hingga dewasa, orang tua hanya perlu membimbingnya. Menegur bila mulai bertingkah laku tak sesuai dengan norma agama.

#KompetisiMenulis
#AlumniKabolMenulis
#day25
#titindeandiva

Inginku


Ingin aku kembali ke masa itu.  Ke masa tak ada ada duka dan perasaan terluka. Hanya ada bahagia, sedikit air mata berbalut senyum.

Ya, aku ingin kembali ke masa kecilku. Di mana tak ada beban hidup yang harus aku panggul di pundakku. Di mana tak perlu perpura-pura bahagia di hadapan semua orang.

Aku ingin kembali menjadi gadis kecil berusia 7 tahun. Tak peduli akan teriknya sengatan mentari menyapa kulitku. Tak peduli pada alas kaki yang aku pakai. Tak peduli akan pakaian yang aku kenakan.

Jika saja waktu dapat terulang kembali. Biarkan aku kembali mengulang masa-masa indah itu. Tertawa lepas berbalut peluh di bawah pohon mangga. Sesekali berlarian di tepi kali, mencoba kabur dari kejaran Paman yang menyuruh berhenti bermain di kali.

Sungguh, aku merindukan itu semua. Tak bisakah sekali saja aku kembali ke saat itu. Setidaknya di alam mimpi. Biar kulepaskan segala kepenatan jiwa. Berdamai dengan peliknya hari.

#KompetisiMenulis
#AlumniKabolMenulis
#Day12
#titindeandiva

Teruntuk Dua Bidadari Kecilku

Dean & Diva

Jangan tanya doa apa yang aku panjatkan untuk mereka. Bahkan dalam tidur pun, kuharapkan yang terbaik untuknya.

Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, selalu kumintakan yang terbaik untuk kedua putriku. Pintaku, jadikan mereka seperti apa yang mereka ingini.

Kubiarkan ketika si sulung ingin berkreasi. Kudoakan saja, agar suatu saat dia bisa menjadi apa yang dicita-citakan.

Si bungsu, kutuntun dalam kebersamaan. Usianya yang baru 8 tahun masih butuh bimbingan, bukan sekadar doa.

Kuamati dari kejauhan. Menjaga mereka dengan doa. Bertutur bahasa yang baik, karena kata itu juga doa, kan? Maka kuupayakan berkata yang baik kepada mereka.

Tuhan, jagakan mereka. Saat kedua lengan ini tak lagi dapat merangkul kedua bahu mereka. Cukuplah kudekap nama mereka dalam doa.

Ya Allah, jadikanlah aku ibu yang baik. Pemberi contoh yang baik. Agar kelak mereka bangga memilikiku.

Ya Rabb, jadikan kedua putriku, Dean dan Diva, jadi anak salihah. Anak yang berbakti kepada orang tua. Yang takut dan tunduk pada agamaMu. Anak yang berilmu dan berakhlak.

#KompetisiMenulis
#AlumniKabolMenulis
#day21
#titindeandiva

5 Tips Menangkal Malas Menulis di Blog



Menulis di blog itu memang butuh tenaga biasa di luar. Lha, gak kebalik tuh? Tenaga luar biasa kali maksudnya?

Beneran kok, butuh tenaga biasa di luar. Masa iya nulis di blog butuh tenaga luar biasa? Kan, cuma ngetik doank bukan pake cangkul atau kapak, hehe.

Maksudnya tenaga biasa di luar adalah. Kemampuan untuk berada di luar zona nyaman. Yang tadinya hanya nyaman pakai aplikasi jejaring sosial yang populer, mulai biasakan beralih ke blog.

Lalu apakah perlu menyiasati agar tetap rutin menulis di blog? Wajib. Apalagi buat pemula, seperti saya, hehe.

1. Buat Jadwal Rutin
Mulailah dengan menyusun jadwal. Tentukan hari apa saja akan menulis di blog. Sebaiknya menulis 2 atau 3 hari. Atau jika punya waktu luang, pergunakan untuk mengunjungi blog, sekadar membalas komen, atau mengunjungi blog teman lain. 

2. Siapkan Materi Tulisan 
Sudah siap menulis tapi bingung nyari ide? Tenang. Ide bertebaran di mana-mana. Tinggal kita jeli atau tidak melihat sekitar. Banyak hal bisa dijadikan tema atau bahan tulisan di blog. Mulai kegiatan harian atau tips. 

3. Konsisten 
Sudah berhasil menulis di blog. Langkah selanjutnya adalah, konsisten. Patuhlah pada jadwal yang telah ditentukan. Jangan menunda jadwal. Lakukan segera mungkin tanpa menunggu nanti. Fokuslah hingga selesai dengan rutinitas menulis di blog. 

4. Berbagi 
Bagikanlah alamat blog kamu ke akun sosial media. Gunanya agar lebih banyak yang membaca tulisanmu. Kebahagiaan tersendiri jika tulisan dibaca oleh orang banyak. Ini bisa jadi penyemangat agar tetap konsisten menulis. Akan banyak yang menanti tulisan kamu untuk dibaca

5. Alasan yang Kuat 
Saat mulai lelah menulis di blog, tanyakan apa tujuan menulismu. Jika hanya untuk sekadar menulis, kamu akan kehilangan semangat di tengah jalan. Tentukan alasan yang tepat agar tetap menulis. Untuk berbagi kisah dan inspirasi. Untuk membagikan ilmu yang dipunya. Alasan-alasan seperti ini bisa dijadikan mood booster jika lelah menghampiri. 

Itukah beberapa tips menangkal malas menulis di blog yang bisa saya share. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. 

Teman Kecil Inspirasiku


Mama dan Kaka De

Darinya aku belajar berjuang. Bertahan di tengah cobaan dan lelah. Semangat dan pola pikirnya luar biasa untuk anak seusianya menurutku.

Darinya aku seperti mendapat kekuatan baru. Berbincang dengannya, berbagi cerita tentang apa saja. 

Umurnya 12 tahun, tapi bisa berpikiran lebih tua dari itu. Katanya, ia ingin berjualan, ingin mencari uang jajan sendiri. Aku masih menganggapnya candaan. Hanya angin lalu.

"Ma, nanti beliin Dean cup. Yang biasa Mama pakai buat agar-agar." Begitu pintanya sore itu.

"Untuk apa?" Setiap permintaan selalu ada tanya jawab panjang setelahnya. Selalu begitu.

"Buat tempat slime. Dean mau jualan slime." Aku hanya nyengir menanggapi pernyataannya. Merasa diremehkan, ia lalu menyodorkan lembaran rupiah padaku.

"Ini uang tabungan Dean. Sengaja Dean sisihkan untuk jualan slime." Opss! Aku telah keliru menilai lawan bicaraku. Dia sedang tidak bercanda.

Dan niatnya bukan sekadar niat. Setiap hari saat berangkat sekolah ia akan membawa satu box yqng berisi 15 cup slime berbagai jenis untuk dijajakan di sekolah.

Aku akui dia memiliki jiwa 'bakulan' sepertiku. Mungkin karena terlalu sering aku mempertontonkan diriku yang sebagai pedagang, hehe.

Aku terharu ketika dia sepulang sekolah mengeluarkan uang dari saku bajunya. Memamerkan rupiah-rupiah lusuh ala anak SD. Menghitungnya satu persatu. Ada binaran kebahagiaan di matanya. Dan ada rasa panas di mataku. Aku berkaca-kaca.

#KompetisiMenulis
#AlumniKabolMenulis
#Day20
#titindeandiva

Rasa Sakit Luar Biasa itu Sungguh Membahagiakan

Topik hari ini mengingatkanku pada kejadian belasan tahun lalu. Bagaimana rasa sakit luar biasa itu harus kujalani dengan pasrah.

Ternyata belasan tahun tak membuatku lupa akan setiap detik di masa itu. Perjuangan kala mempersiapkan kehadiran bidadari kecil di dalam Kehidupanku.

Pagi itu, kudapati bercak darah ketika di kamar mandi. Hanya saja tanpa rasa sakit. Namun beranjak siang, rasa sakit mulai merambat di perutku. Sebentar datang, sebentar pergi.

Sore menjelang, kami memutuskan untuk memeriksakan keadaanku di sebuah rumah sakit. "Pembukaan dua," begitu jelas perawat setelah memeriksaku. Deg! Aku gugup. Saatnya telah tiba.

Jelang tengah malam aku dilarikan ke ruang bersalin. Terbaring dengan dua orang perawat yang mendampingi. Tak lagi ada rasa malu, semua tertutupi dengan lilitan rasa sakit di perut.

Nyaris satu jam aku berusaha. Mengejan mengikuti perintah. Namun putri kecilku masih enggan untuk menemui dunia baru tempatnya tinggal. Rasa lelah telah menjalar di sekujur tubuhku. Ingin menyerah saja rasanya.

Suntikan rangsangan ke dua kali telah kuterima. Itu artinya aku harus bersiap kembali menikmati rasa sakit yang luar biasa itu. Lagi. Mengulang saat keringat dingin bercucuran karena menahan sakit. Meremas apa saja, berharap dengan remasan itu rasa sakitnya akan berkurang.

Sakit maha dahsyat itu terbayarkan ketika kudengar tangisan seorang bayi. Suara lengkingannya memecah kesunyian malam itu. Setengah dua dini hari. Oh Tuhan, sakit ini sungguh membahagiakan!

#KompetisiMenulis
#AlumniKabolMenulis
#Day19
#titindeandiva

Ketika Hobi tak Sejalan dengan Pasangan

Ketika Hobi tak Sejalan dengan Pasangan


Hobi gak disetujui pasangan? Rasanya sakit, Jenderal! Perih! Pernah mengalami kayak gini, Mak? Hayuklah kita curhat bareng di pojokan, hiks.

Ada kisah dari seorang teman, kisah tentang salah satu temannya. Ceritanya sih panjang kali lebar, tapi gak pernah ditotal, makanya sesi cerita waktu itu tetap ngalor ngidul.

Maaf, out of topic, balik lagi ke kisah tadi. Temannya teman, hobinya gak disetujui oleh sang pasangan hidup. Jadi temannya teman itu curhat ke teman.sampai sini, gak pada mualkan bacanya? Anggap aja gak mual, alhamdulillah. Sengaja nulis bertele-tele biar ada yang ditulis. Soalnya, tema hobi ini sudah masuk hari ke tiga. Dan bingung mau nulis apa.

Oke, kembali ke curhatan temannya teman. Hobinya menulis gak disetujui oleh suami. Yang berujung pada paksaan suami untuk menutup akun pesbuk si temannya teman. Ngenes, ya. Hobi aja bisa bikin pasangan jadi ribut, hiks.
Tapi kenyataannya ini memang ada. Beberapa pasangan yang gak mendukung hobi istrinya. Berbagai alasan turut membenarkan untuk melarang hobi sang istri. Sampai sini, para emak jangan emosi dan baper, ya. Apalagi sampai ngomel gak karuan.
Jadi, satu yang coba saya, emaknya Dean dan Diva, pahami. Mungkin memahaminya setelah asyik chit chat di salah satu grup WA. Masih dari kata seorang teman, bicarakan dulu dengan pasangan tentang hobi kita. Jelaskan pada suami dengan panggilan mesra, jika perlu pake kedip-kedip manja. Itu saja, bahkan pahala.

Nah, setelah suami tahu apa yang menjadi hobi kita, para istri salihah yang mencoba mencari berkah dan izin suami, teruslah buktikan diri. Buktikan apa? Buktikan bahwa menjalankan hobi, apapun itu, setelah menyelesaikan tugas domestik ibu rumah tangga. Ini. Bisa? Insyaallah ya, Mak.
Sampailah di paragraf terakhir, mungkin. Saya cuma bisa berpesan. Pesan dari seorang emak dasteran, yang masih nyuri waktu online di antara cucian baju. Atau diam-diam pegang gawai ketika lagi makan. Wahai emak sejagat Indonesia, lakukan dulu tugas negaramu, masak, macak, manak. Setelah itu, barulah menikmati hobimu.

Makjleb! Berasa ketampar kanan kiri, euyyy. Nulis sendiri, ketampar sendiri. Perih-perih gimana gitu. Tapi inilah kenyataan yang pasangan kita mau. Tuntaskan dulu pekerjaan rumah. Cucian piring itu, gak bisa mencuci dirinya sendiri. Catet, Mak, catet!

Tarik napas dulu. Sebenarnya pengin berhenti nulis, karena tadi sudah nulis paragraf terakhir. Tapi nyatanya masih nulis juga, haha. Maaf, Mak. Lagi pengin curcol.

Serius lagi. Pak suami hanya perlu melihat usaha kita. Usaha apa? Menyelaraskan antara hobi dan tugas utama. That's it. Mereka, para suami, gak mau rumah dan anak-anak mereka terlantar hanya karena emaknya doyan onlen lirik bayangan di cermin*

Baiklah, cukup unek-unek di pagi menjelang siang ini. Semoga tulisan yang tak seberapa penting ini, atau bahkan gak penting sama sekali, setidaknya bisa membuat sesimpul senyum. Walau mungkin gak paham maknanya.

#KompetisiMenulis
#AlumniKabolMenulis
#Day14
#titindeandiva
#TeeDee
#TeeDeandria

Pengisi Waktu Luang

Pengisi Waktu Luang

Hobi kamu apa, Mak? Pengisi waktu luangku ada banyak hal dan berganti-ganti mengikuti kata hati #eaaaa

Kok gitu, sih? Iya, Mak. Soalnya aku termasuk dalam golongan emak moody. Jadi hobinya ngikutin tingkat kebaperan diri, haha. Yang ini jangan dicontoh, yessss.

Sekali waktu aku begitu menggilai saat bersama mesin jahitku. Menghabiskan waktu hanya berdua dengannya. Suara mesinnya terdengar indah di telinga. Setiap sudut dan lekukan terlalu sayang untuk dilewatkan. #lebaymodeon

Ada kalanya aku begitu menikmati membuat kerajinan tangan. Merangkai manik-manik, menjadikannya sebuah kalung atau gelang. Merangkai kain menjadi bros dan bandana. Terkadang melilit kawat, membentuknya menjadi hiasan kepala yang cantik.

Di lain hari, aku akan begitu nyaman di pojok dapurku. Berteman tepung dan telur. Suara mixer berputar, tumpahan adonan, dan aroma kue kering yang dipanggang bisa menjadi candu.

Lalu ada masa aku begitu dekat dengan deretan kata dan rima. Saat tak tahu lagi apa yang diinginkan, sebait puisi bisa jadi penghibur diri. Beberapa sajak dapat mengisi kekosongan hati. Sepenggal motivasi pengingat diri bisa jadi pemacu semangat.

Ya, aku menyukai itu semua. Rela berjam-jam menghabiskan waktu. Bahkan hingga larut malam. Namun kadang kala bosan datang melanda. Berpindah dari satu hobi ke hobi lain.

Kok hobinya gonta-ganti sih, Mak? Gak pengin apa punya hobi yang dibayar? Hobi yang diseriusin biar bisa jadi penghasilan.

Mmmm, dari jahit sudah pernah ngerasain diupah jahit. Pernah juga ngerasain mesti begadang demi nyelesaikan orderan bros, headband, bandana, gelang, kalung.

Pernah juga nambah penghasilan dari bakulan kue kering dan camilan. Dan dari oret-oret, merangkai aksara, juga pernah dapat duit, wala gak gede.

Ada kalanya, tak hanya materi yang dicari. Aku melakukan itu semua demi menyenangkan hati. Kalau dibayar, itu bonus, hehe.

Sebenarnya ada satu lagi hobi yang lain. Hobi emak kebanyakan, hihi. Hobi shopping aka belanja. Nah lo! Tenang untuk yang satu ini sudah ketemu formula tepat biar dompet gak jebol. Mau tahu?

Sebagai emak yang ingin menyalurkan hobi belanja. Akhirnya memutuskan diri menjadi salah satu emak olshoper, wkwkwk. Jadi bisa menyalurkan hobi yang terpendam plus bisa dapat duit buat belanja *emot mata duit dollar*

Jadi buat emak-emak yang baca status ini, kalau mau shopping atau belanja, yuk di DD Shop aja.

#KompetisiMenulis
#AlumniKabolMenulis
#day13
#DDshopandcraft

Anti Gagal, Yuk Cobain Resep Ayam Kremes ini!

Ayam merupakan olahan yang paling diminati, baik oleh anak-anak maupun orang tua. Tak heran jika banyak sekali sajian berbahan dasar ayam.  ...