![]() |
| Mama dan Kaka De |
Darinya aku belajar berjuang. Bertahan di tengah cobaan dan lelah. Semangat dan pola pikirnya luar biasa untuk anak seusianya menurutku.
Darinya aku seperti mendapat kekuatan baru. Berbincang dengannya, berbagi cerita tentang apa saja.
Umurnya 12 tahun, tapi bisa berpikiran lebih tua dari itu. Katanya, ia ingin berjualan, ingin mencari uang jajan sendiri. Aku masih menganggapnya candaan. Hanya angin lalu.
"Ma, nanti beliin Dean cup. Yang biasa Mama pakai buat agar-agar." Begitu pintanya sore itu.
"Untuk apa?" Setiap permintaan selalu ada tanya jawab panjang setelahnya. Selalu begitu.
"Buat tempat slime. Dean mau jualan slime." Aku hanya nyengir menanggapi pernyataannya. Merasa diremehkan, ia lalu menyodorkan lembaran rupiah padaku.
"Ini uang tabungan Dean. Sengaja Dean sisihkan untuk jualan slime." Opss! Aku telah keliru menilai lawan bicaraku. Dia sedang tidak bercanda.
Dan niatnya bukan sekadar niat. Setiap hari saat berangkat sekolah ia akan membawa satu box yqng berisi 15 cup slime berbagai jenis untuk dijajakan di sekolah.
Aku akui dia memiliki jiwa 'bakulan' sepertiku. Mungkin karena terlalu sering aku mempertontonkan diriku yang sebagai pedagang, hehe.
Aku terharu ketika dia sepulang sekolah mengeluarkan uang dari saku bajunya. Memamerkan rupiah-rupiah lusuh ala anak SD. Menghitungnya satu persatu. Ada binaran kebahagiaan di matanya. Dan ada rasa panas di mataku. Aku berkaca-kaca.
#KompetisiMenulis
#AlumniKabolMenulis
#Day20
#titindeandiva

No comments:
Post a Comment