Membalut Luka Hati
“Jangan bermain api jika tak ingin terbakar.”
“Jangan bermain hati jika tak ingin terluka.”
Jika saja aku tahu akan seperti ini, aku tak akan
pernah membiarkan hatiku ikut serta. Tapi nyatanya, takdir membawaku pada
realita yang menyakitkan. Melukai hati ini. Yang telah susah payah kuhadiahkan
padamu.
Aku pernah terluka. Dalam. Hingga merasa tak mampu
‘tuk bangkit kala itu. Perih…. Bahkan mengingatnya saja bisa membuatku menitikkan
bulir bening. Aku pikir waktu akan menyembuhkan. Nyatanya tidak.
Para pujangga sering berkata, “Waktu adalah obat
segala luka.” Common, itu hanya
seuntai kata pemanis. Buktinya, luka ini masih terasa perih walau telah lama
berlalu. Setidaknya ada sedikit rasa nyesek
jika mengingatnya. Atau hanya aku yang gagal move on?
*****
Cukup curahan hatinya, hiks. Kalau diteruskan bisa
baper akut, haha. Secara, berdarah-darah banget booo. Gak usah tanya mengapa,
ntar aku curhatnya makin mulus kayak wajah model iklan yang glowing itu.
Tapi memang, semua hal yang berhubungan dengan hati
akan lama sembuhnya. Apalagi buat beberapa tipe yang lembut hatinya kayak saya
#eaaaa Jangan pada mules ya, wkwkwk.
Menjaga hati tetap utuh bukan perkara mudah. Apalagi
jika telah teriris luka. Perlu jiwa dan raga yang siap untuk meninggalkan masa
lalu. Dan itu tak mudah. Bayangan masa lalu yang perih itu, yang ingin
dilupakan, bisa saja diam-diam hadir di antara tawa yang mulai terkembang. Bisa
saja hadir tanpa diundang di alam mimpi. Seolah kembali nyata.
Berdamailah dengan hatimu. Ajak ia duduk bersama.
Tanyakan yang ingin kau tanyakan. Mengapa harus begini? Mengapa terjadi setelah
senyaman ini? Mengapa harus sekarang? Tanyakan saja, tanyakan. Puaskan hatimu
dengan jawaban dari relung hati terdalam. Jangan ajak emosi duduk bersama.
Emosi itu, biarkan ia duduk di ruang lain, membodohi diri sendiri.
Temukan jawaban yang sejujurnya, bukan yang kau
ingin dengar. Tentu hatimu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya terkadang
emosi dan luka suka melebih-lebihkan. Membuat keadaan begitu buruk, seakan
dunia runtuh.
Bukan, ini bukan tentang orang lain. Ini tentangmu.
Tentang pribadimu. Jangan coba menyalahkan orang lain. Sudahkah kau berbenah
diri setelah luka itu datang mencabik-cabik hatimu? Sudahkah kau memperlakukan
dirimu dengan adil. Membiarkan pribadimu bahagia. Mengizinkan untuk memaafkan dirimu
sendiri.
Hati, yang lemah itu, bila tak kau jaga akan mudah sekali membeku. Akan
menjadi kaku. Lalu kemudian mati rasa. Itukah yang kau inginkan? Mematikan
bagian dari dirimu? Oh, common, kau
lebih berharga dari sekerat luka itu. Perihnya hanya akan hadir sejenak, tak
akan lama. Sibukkan dirimu dengan hal-hal baru.
Perlahan, kau akan menyadari dunia lebih indah. Hari
buruk itu akan berlalu. Sakitnya mungkin akan sesekali terasa. Mendesirkan
relung hati. Tak apa. Setiap luka yang akan membaik memang akan meninggalkan
sedikit perih. Terus saja bubuhkan obat pelipur lara. Coba, pandangi wajahmu
itu di depan cermin. Tanyakan, pantaskah kau untuk terus berduka akan masa
lalu? Haruskah terus menghukum diri dengan kesedihan. Setelah itu, cobalah
tersenyum. Rasakan tarikan seulas senyum itu. Senyum yang lama hilang dari
wajahmu.
Pantaskan dirimu untuk berbahagia. Hidup untuk terus
dilalui, kan? Dunia tak menunggumu siap, ia terus berputar tanpa menunggu siapa
pun. Jangan sampai kau tertinggal, lalu kemudian menyesal. Please, jangan. Jangan perburuk masa depanmu hanya karena urusan
hati. Kendalikan hatimu, sebisamu. Lelah pasti datang bertandang kala mencoba
tegar. Berjuanglah, demi masa depanmu yang bertabur kebahagiaan.
Berdamailah dengan hati. Biarkan yang lalu, berlalu.
Mulailah melangkah menata masa depan. Jadikan perih di masa lalu menjadi
pengingat. Tak perlu terlalu sering menatap ke belakang, foukuslah melihat ke
depan. Oh hati, menguatlah. Menguatlah!
#infinityLovInk
#WnA
#GAjumat
#titindeandiva

Yes, setuju banget nih
ReplyDeleteAsyikkkk, ada temennya, hihi.
Delete