First Kiss

First kiss

Mia meraba bibirnya. Hatinya berdesir hangat. Akhhh bayangan itu hadir lagi. Walau berulang kali ingin dihilangkan. Dia butuh konsentrasi untuk mengajar hari ini. Ini baru hari kedua dia mengajar di sekolah baru.

"Assalamualaikum bu guru." Suara sapaan itu menghentikan lamunan Mia. Dia menatap anak muridnya dan tersenyum. Menyambut tangan mungil yang hendak menyalaminya. Dan Mia pun mengelus kepala yg terbungkus jilbab putih. Dan setelah itu si anak pun berlari.

Mia masih berdiri di depan gerbang, berhadap dia datang. Dia yang mengecup hangat bibirnya. Dia sudah tak sabar menunggu pagi ini.

Sebuah mobil terparkir di sisi jalan. Mia menatapnya dengan teliti. Sepertinya ini mobil yang kemarin. Dan benar seseorang turun dari pintu kemudi, lalu membuka pintu di belakangnya. Turun seorang anak kecil, dengan lincahnya dia membenahi kopiah di kepalanya.

Mia hanya diam memperhatikan dari balik gerbang. Tapi jangan tanya jantungnya, berdebar keras. Dia hanya berusaha menyembunyikan luapan emosi itu.

Lelaki paruh baya itu melintas di hadapan Mia. Dia tersenyum, Mia membalas seadanya. Matanya tertuju pada bocah tujuh tahun itu. Mia menyodorkan tangannnya. Bocah tadi menerima dengan semangat.

Tarikan jemari kecil itu membuatnya menunduk. Kini dia sama tinggi dengan bocah itu. Di kecupnya telapak tangan Mia dengan bibir kecilnya. Dan kemudian bibir kecil itu mendarat di bibir Mia. Muahhh.

Akhhh yang Mia tunggu akhirnya terjadi juga. Bocah tujuh tahun itu mengecupnya, lagi. Kali kedua. Hati Mia berbunga-bunga. Bagaimana tidak, melihat bocah itu mengingatkan Mia pada Aldi, anaknya. Nyaris mirip.

Hanya saja Tuhan lebih sayang Aldi dan mengambilnya lebih cepat. Dan entah apa maksud takdir Tuhan. Dia menghadirkan Randi, si bocah tujuh tahun sebagai pengganti. Dengan kecupan yang sama seperti Aldi.

#day7
#30dayswritingchallenge
#challenge2
#tnb23
#titindeandiva
#TeeDee

Impianku

Impianku

Hidup ini seperti kelapa. Bulat. Siapa yang akan tahu bagaimana isinya. Hanya jika kita mengupasnya baru kita tahu seperti apa isinya.

Seperti itu hidup kita berdua, bulat. Pasti yang memandang dari jauh akan menganggap hidup kita nikmat. Mereka akan berfikir hidup kita indah. Nyaris tanpa cela.

Itu karena Allah menutupi aib kami. Mengindahkannya dengan tawa kami. Menghiasnya dengan senyum kami. Karena kami tahu hidup bukan untuk tebar kesedihan. Kami hanya berbagi suka. Dukanya? Biar kami yang tanggung.

Semoga saja Dia selalu meridhoi kami. Menjaga kami dari keburukan. Memelihara kami dalam kekhilafan. Memperbaiki yang kurang dari kami. Hingga kami terlihat sempurna di mata sesama.

Kenikmatan ini, jika boleh meminta. Ijinkan aku tetap bersamanya hingga menua. Melewati jalan-jalan kehidupan saling bergandengan. Saling memapah di kala lelah. Saling menghibur di kala duka. Impianku hanya itu, bersamanya. Hingga maut tiba.

#day6
#challenge2
#30dayswritingchallenge
#tnb23
#titindeandiva
#TeeDee

Kisah Rani

Rani memandang foto di hadapannya. Foto lama. Di foto itu terlihat sepasang suami istri dengan bocah kecil yang duduk manis di sebuah kursi. Di meja terdapat kue ulang tahun bertuliskan sebuah nama. Roni Putra Hadi.

Rani tersenyum menatap foto itu. Dibetulkannya letaknya. Setelah itu dia membersihkan jemarinya yg gemulai itu dari debu. Rambut sepinggul berwarna kecoklatan itu dikibaskannya ke belakang agar tak terkena debu.

Dari dalam rumah keluar seorang wanita. Agak heran dengan kehadiran Rani. Mata tuanya dikerutkan berusaha mengenali siapa gadis cantik itu. Gadis berkulit putih, tubuhnya tinggi semampai, rambut kecoklatan dibalut dress berwarna merah semerah warna lipstik di bibirnya.

"Kamu siapa ya, nak?" Tanya wanita tua itu.
"Mak, ini aku Roni."

#flashfiction
#writingchallenge
#writerandauthor
#tnb23
#titindeandiva
#TeeDee

Hari ini

Hari ini

Hari ini aku rindu padamu
Rindu senyummu
Tatapmu, suaramu
Seutuhnya aku rindu kamu

Wahai pemilik mata sendu
Kau membuatku kagum padamu
Aku terpikat oleh wajahmu
Terpana oleh santun lakumu

Wahai engkau tuan pemilik hatiku
Sumber segala kebahagiaanku
Muara dari lautan kasihku
Adakah engkau pun memikirkanku

Rasa ini, duhai pujaanku
Tak lagi dapat kubendung rindu
Mengaliri relung kalbu
Menggenangi lubang sisi cumbu

Mampukah ku tahan segala pilu
Menanggung hati yang biru
Karena hanya pada  engkau
Secawan kasih akan ku tandu

Oh tuan penguasa mimpiku
Hadirlah di setiap waktu
Agak tak luput ingatanku
Pada raut dan harummu


#titindeandiva
#TeeDee
#puisi

Tentang minggu ini

Tentang minggu ini

Senin, 24 April 2017
Maya merapikan berkas di meja kantornya. Matanya tertuju pada sebuah kartu undangan berwarna emas. Di bacanya sekilas kapan undangan itu. 30 April 2017. Masih lama, pikirnya.

Selasa, 25 April 2017
Maya tertegun di kantornya. Hanya berdiam. Matanya lagi-lagi tertuju pada kartu undangan. Ah masih lama, ujarnya dalam hati.

Rabu, 26 April 2017
Maya tergelitik ingin membuka kartu undangan itu. Tapi sebuah suara mengalihkan pandangannya. "Kamu dipanggil pak Yoga tuh. Ditunggu di ruangannya." Maya beranjak. Dan dia pun lupa.

Kamis, 27 April 2017
Maya terlalu sibuk hari ini. Tanpa sedikitpun teringat pada kartu undangan itu.

Jumat, 28 April 2017
Maya hanya menyaksikan beberapa teman yang menerima kartu undangan. Undangan yang sama seperti di mejanya. Aneh. Dia memasukkan kartu undangan ke dalam tas sebelum pulang.

Sabtu, 29 April 2017
Hari libur kerja. Ia belum beranjak dari kasur. Diraihnya tas kerjanya. Membuka kartu undangan. Selembar kertas jatuh dari dalam.
"Datanglah besok lebih cepat. Aku akan meninggalkan semuanya. Kita akan pergi bersama."

Minggu, 30 April 2017
Pukul 05.00 wib
Maya nyaris tak menutup mata. Dia lupa cara tidur sejak selembar surat itu dibacanya. Ingin rasanya dia mendatangi Bram dan pergi bersamanya.

#writingchallenge2
#30dayswritingchallenge
#day5
#tnb23
#flashfiction
#writerandauthor
#titindeandiva
#TeeDee

Badut

"Demi uang kamu rela?" Tanyaku pada Rya.
"Ya, tentu." Dia menjawab pasti.
"Bahkan jika kau harus menanggung malu karena itu?"
"Ya, itu resikonya. Aku harus siap."

Rya sudah yakin dengan keputusannya. Tekadnya bulat demi buah hatinya. Dia harus berjuang demi menafkahi ke empat putra-putrinya yang masih kecil.

Dari jauh aku melihat Rya mengenakan pakaian badut di sebuah pusat perbelanjaan. Dikerumuni oleh beberapa anak kecil yang ingin berfoto.

Ahhh Rya kamu memang luar biasa. Aku kagum padamu. Pada tekadmu. Pada keteguhan hatimu.

#flashfiction
#writingchallenge
#writerandauthor
#titindeandiva
#TeeDee

Hujan

Hujan

Apa makna hujan bagi pecinta
Itu ibarat pembasuh rindu
Seperti pelepas dahaga
Walau rindu tak pernah berlalu

Hujan ini mengingatkanku padanya
Yg kupuja dalam kalbu
Dingin ini sedingin cinta yang kurasa
Menanti kehangatanmu

Jika saja hujan mampu melipur rasa
Tentu hati tak perlu pilu
Andai dapat hujan menghapus duka
Aku pasti tak kan sendu

Hujan, sampaikan pada dia
Hati ini tetap setia menunggu
Oh angin sampaikan pada dia
Diri ini masih di sini untuk bertemu 

#titindeandiva
#TeeDee
#puisi

Keyakinan

Keyakinan


Yakin saja dulu, begitu katanya padaku. Kurenungkan kata-katamu seharian ini. Kupeluk erat boneka pemberiannya. Kembali rindu ini menyeruak dalam keheningan malam.
Aku masih tenggelam dalam lautan kesedihan. Menikmatinya. Membiarkan berlarut-larut. Aku belum bisa move on dari bayangannya.

"Kamu pasti bisa, Mir. Yakin aja dulu." Kata-kata itu seperti meracuni otakku sedari pagi setelah kedatanganmu. Entah mengapa begitu mudah kamu menasehatiku. Mengena, tepat di hatiku.
Kupandangi sekelilingku, kamar tak terurus ini. Sudah berapa lama aku tak merapikannya. Entah kekuatan darimana kubersihkan tempat tidurku. Menatanya seperti biasa. Dan semalam aku tidur nyenyak, pulas.

Aneh, pikirku. Sekuat itukah magic perkataanmu kemarin. Aku bagai terhipnotis. Bagai lupa bahwa kemarin aku masih Andrea yang patah hati karena ditinggal pergi kekasih hati. Lihat aku hari ini. Utuh. Raga dan jiwaku menyatu.
Mata ibuku menatap dengan tatapan kaget melihatku. Kubiarkan saja dia penasaran, aku ingin bergegas mandi. Senandung kecil terucap dari bibirku ketika siraman pertama kujatuhkan di kepalaku.

"Aku pergi dulu ya, Bu. Ke rumah Bagas." Cepat kuayunkan langkahku keluar rumah, ibu hanya mematung dari dapur saat aku membalikkan badan, melambai kepadanya. Aku hanya tersenyum.

Kukayuh sepeda yang kuambil dari garasi. Aku tak sabar ingin bertemu Bagas hari ini. Dia sahabat masa kecilku, hingga sekarang. Rumah kami tidak jauh, masih satu perumahan. Tak ada yang mengabariku bahwa dia telah pulang dari Singapura.

Kusandarkan sepedaku di pohon mangga. Kepalaku terangkat, menatap. Pohon itu sudah tinggi sekarang. Dulu aku sering memanjatnya dengan Bagas. Ahhh kenangan masa kecil itu begitu manis. Aku tersenyum.

"Udah bisa senyum sekarang?" Mendadak senyumku hilang, aku menoleh. Bagas berdiri menatapku sambil tersenyum. Meledekku, aku tahu makna senyum itu.

Tanpa ragu kuhamburkan pelukanku pada Bagas. Dia menimpalinya dengan mengelus rambutku. Merebahkan kepalaku di pundaknya. Hangat. Sesaat kami hanya diam. Tak peduli dengan sekitar.

"Mau di situ sampe sore, An. Ayo masuk." Ku lepaskan pelukanku dan merapikan jaketku yang berantakan. Tante Widya berdiri di teras pintu, melambaikan tangan memberi isyarat agar masuk ke dalam rumah.

Sedikit berlari aku ke arah tanta Widya, menyalami dan mencium telapak tangannya. "Kok tante gak bilang ke An sih, kalo Bagas pulang." Rengekku padanya.

"Gimana mau bilang sama kamu, kamu lama gak ke rumah tante."

"Eh iya ya, lama banget kayaknya An baru ke rumah ini lagi hehe." Aku tersipu malu mendengar ucapan tante Widya sembari mengikuti langkahnya menuju dapur.

Tiba-tiba langkahku tertahan, ada yang menarik tanganku. Aku menoleh. Kulihat Bagas memintaku diam dengan menaruh jari telunjuknya di bibir. Aku tahu tipuan apa ini. Kami sering melakukannya dulu.

Sedikit berjingkat ku balikkan arah dan tubuhku mengikuti Bagas. Dan ketika mulai agak jauh dari dapur kami berlarian menuju lantai atas. Kamar Bagas.

Aku tertawa lepas setelah Bagas menutup pintu kamar. Aku segera menjatuhkan tubuhku ke atas kasur empuk milik Bagas. Ku lihat Bagas masih tertawa setengah menunduk bersandar di pintu. Aku kembali tertawa.

Setelah puas dengan tawanya, dia menghampiriku. Merebahkan tubuhnya di sampingku. Kasur ini tak lagi muat untuk kami berdua. Dulu kami sering menghabiskan waktu libur sekolah dengan bermain monopoli di kasur ini.

Bagas, aku beruntung memilikimu. Kamu memang sahabat terbaikku. Kamu selalu menjadi penolongku, hingga kini. Entah akan bagaimana kita nanti, atau seperti apa masa depan kita. Aku tahu kamu tetap yang terbaik.

Aku Andrea miranda, si gadis dua puluh tahun yang patah hati karena cinta. Mengurung diri di kamar, seakan dunia tak lagi indah untuk di huni. Seakan semuanya berakhir.

Ternyata tidak dengan hadirnya sahabat dan orang terdekatmu. Jika waktu adalah penyembuh luka, maka sahabat adalah penghibur hati. Dari mereka kita tahu bahwa masa depan itu ada.

Yakin saja dulu. Sisanya biar Tuhan yang tentukan. Jalani saja dengan ikhlas, biarkan takdir membawamu kemana.


#day4
#30dayswritingchallenge
#tnb23
#titindeandiva
#TeeDee 

Sebuah Momen Dalam Hidupmu

Sebuah Momen Dalam Hidupmu 


Aku jatuh hati lagi, di kali kedua. Padamu. Siapa sangka waktu bisa mempertemukan kita, lagi. Semalam. 

Entah apa maksud takdir membuat kita saling tatap. Aku hanya menikmati setiap detik, setiap menit bersamamu. Mengupas kembali memori masa itu, masa lalu kita.

Aku seperti kembali ke masa putih abu-abu. Dimana kita saling memandang, lekat. Tanpa batas. Tanpa ragu, saling menyentuh.

Kamu masih sama, senyummu pun begitu. Masih menggodaku. Bahkan setelah sekian lama. Aku pikir akan bisa begitu saja melupakanmu. Tapi setelah semalam ternyata aku tak pernah melupakanmu.

Untukmu, yang semalam ku temui. Tanpa sengaja. Aku menginginkanmu, lagi. Di sini, bersamaku. Walau hanya sekejab.

Sungguh kau mengalihkan duniaku. Melupakan sekelilingku. Sehari ini saja aku tak pernah berhenti mengingatmu. Hariku menjadi tak begitu menarik ku lalui. Terus memikirkanmu. Apa kamu pun begitu?

Menunggu saat nanti dimana kita benar-benar kembali dekat. Lebih dekat, mungkin. Hanya bisa menunggu kapan tiba waktunya.

Aku terpaku mematung di kamarku. Bayanganmu bermain-main di pikiranku. Merangkai asa jika nanti benar kita kembali berjumpa. Seperti janjimu.

Terbuai oleh lamunan akan indahnya pertemuan kita nanti. Saat kita disatukan dalam ruang dan waktu yg sama. Berdiri di bumi yang sama. Saling bertegur sapa, dengan sedikit canggung di awalnya. Lalu kemudian terlena pada nuansa masa lalu.


#day3
#challenge2
#30dayswritingchallenge
#titindeandiva 
#TeeDee 

Apa kabarmu hari ini

Apa kabarmu hari ini
Sungguh kamu bertanya itu padaku?
Aku baik-baik saja, selalu.
Setidaknya itu kebohongan yang bisa aku suguhkan sebagai jawaban. Jika saja kamu bisa melihat mataku, hatiku. Kamu pasti tahu jika bibir ini tak jujur.
Apa kabarmu hari ini?
Tentu saja kabarmu baik, selalu.
Kamu kan selalu baik, mana mungkin harimu tak baik. Kamu hanya melihat yang terlihat, tanpa bisa mengerti ada apa sebenarnya.
Coba kamu jadi aku sehari saja. Cukup sehari. Merasakan rasanya jadi aku. Memulai pagi dengan merindu tapi harus bersabar. Lalu menjalani hariku dengan mengingatmu. Di rumah, di jalan, di manapun bahkan saat ini. Saat sendiriku. Kemudian rindu ini memuncak menjelang malam. Saat menatap layar ponselku tanpa ada kabar dari kamu.
Tahukah kamu rindu ini menyiksa. Aku harus mengurungnya dalam penjara hati. Memasungnya dalam kamar jiwa. Bahkan menahan debaran jantung yang detaknya semakin tak beraturan merindukan hadirmu. Rindu ini membunuhku. Perlahan. Tapi pasti.
Aku sudah mulai lupa, lalu mengapa sapamu itu datang di ponselku. Merubah hariku yang sedikit membaik kembali buruk. Aku sempat maju selangkah, kemudian kembali mundur dua langkah oleh sapamu.
Hei apa kabarmu pagi ini?
Aku buruk, lebih buruk dari terakhir kita bertemu.
Aku jatuh lagi, di luka yang sama
Lebih perih, lebih berdarah


#day2
#challenge2
#30dayswritingchallenge
#tnb23
#titindeandiva
#TeeDee

Cinta

CINTA

Namaku cinta, begitu mereka memanggilku. Entah mengapa mereka memanggilku begitu.

Namaku cinta, umurku? Sungguh kau ingin tahu? Aku abadi, terkadang.

Namaku cinta, umurku selama apa aku ingin hidup. Aku akan terus memikirkan kekasihku, mengingatnya setiap waktu. Seumur hidupku. Bahkan saat nafas tak lagi terhirup olehmu. Saat ragamu terkaku, cintaku masih tetap hidup. Mereka memanggilku cinta mati.

Namaku cinta, umurku baru sepuluh tahun. Aku mengenalmu dibangku sekolah dasar. Masih ingusan. Tapi rasa itu masih ada walau sudah menua, masih saja mengenangmu. Mereka memanggilku cinta monyet.

Namaku cinta, umurku baru dua dua. Aku menemukanmu dipelukan orang lain. Dan aku pun ingin memilikimu, cinta. Rela melakukan apapun untuk mendapatkan kamu. Cintaku harus memiliki, itu harus. Mereka memanggilku cinta buta.

Namaku cinta, umurku dewasa. Aku cinta bukan karena raga, bukan pula rupa. Aku cinta kamu karena menyempurnakan hidupku. Menjadikan kamu pendamping hidupku. Mempersatukan dalam ikatan suci. Mengikrarkan janji di hadapan Ilahi. Mereka memanggilku cinta suci.

Namaku cinta, umurku selama mereka ada. Aku adalah ciptaan kasih sayang mereka. Terlahir sebagai penerus cinta kalian. Kalian memberiku yang terbalik. Kalian akan selalu menjagaku bahkan hingga aku menemukan cinta baru. Pernah dengar kasih ibi sepanjang masa? Itu aku, mereka menamaiku begitu. Cinta abadi.

Begitu banyak mereka menamaiku, mengartikan aku. Tapi aku tetap aku, aku tetap cinta apapun bentuknya. Bagaimanapun mereka menjabarkan aku di hidup mereka.

Hei kamu, perkenalkan aku CINTA

#day1 
#challenge2
#tnb23
#titindeandiva
#TeeDee

Your best friend

Your best friend 💞
Teman terbaikmu 💞

Hidup bukan selalu soal mengejar mimpi, bukan sekedar memenuhi kewajiban dan tanggung jawab. Sesekali lihatlah duniamu lihatlah sekelilingmu,  mungkin banyak yang terlewat karena kau terlalu sibuk dengan rutinitasmu. Hargailah mereka yang mendukungmu tanpa kau sadari, yang mendengarkan keluh kesahmu.

Tulisan ini mengingatkanku padamu, padamu yang betah berjam-jam menghabiskan waktu hanya untuk membalas chatku yang kadang isinya sama sekali ga penting 😄  tantangan ini membuatku sadar bahwa tanpa kamu aku pasti hanya akan melungker dipojokan menangis meratapi kesendirian 😭  (yang ini agak lebay gpp yak 😅)

Eh kamu yang disana makasih ya sudah menemani hari hariku, makasih untuk candaanmu yang slalu menghiburku, makasih untuk waktumu yg rela kau habiskan untukku,  sempurnaku bila ada kamu 😘😘😘 

Semoga saja kamu tau bahwa aku bahagia punya kamu tanpa perlu aku ungkapkan, diamku bukan karena ku tak peduli, tapi karena terlalu sombong mengakuinya dihadapanmu, cukuplah aku sampaikan lewat perhatianku 😍😍😍 

Ahhhh menceritakan tentangmu takkan ada habisnya, hanya makin membawaku pada kenyataan bahwa aku BUTUH kamu 💝  you are always be my best friend 💞💞💞

Nb: please jangan kepo apalagi baper yak sama status diatas 👆 ini cuman latihan nulis 😝😝😝 tag nyonyah ngadimin nyah Ruli ama nyah Mentari Yousof 😘😘😘

#tnb23
#nyonyaketjeh
#ruli
#mentariyousof
#30dayswritingchallenge
#day1
#titindeandiva

Anti Gagal, Yuk Cobain Resep Ayam Kremes ini!

Ayam merupakan olahan yang paling diminati, baik oleh anak-anak maupun orang tua. Tak heran jika banyak sekali sajian berbahan dasar ayam.  ...