Keyakinan
Yakin saja dulu, begitu katanya padaku. Kurenungkan kata-katamu seharian ini. Kupeluk erat boneka pemberiannya. Kembali rindu ini menyeruak dalam keheningan malam.
Aku masih tenggelam dalam lautan kesedihan. Menikmatinya. Membiarkan berlarut-larut. Aku belum bisa move on dari bayangannya.
"Kamu pasti bisa, Mir. Yakin aja dulu." Kata-kata itu seperti meracuni otakku sedari pagi setelah kedatanganmu. Entah mengapa begitu mudah kamu menasehatiku. Mengena, tepat di hatiku.
Kupandangi sekelilingku, kamar tak terurus ini. Sudah berapa lama aku tak merapikannya. Entah kekuatan darimana kubersihkan tempat tidurku. Menatanya seperti biasa. Dan semalam aku tidur nyenyak, pulas.
Aneh, pikirku. Sekuat itukah magic perkataanmu kemarin. Aku bagai terhipnotis. Bagai lupa bahwa kemarin aku masih Andrea yang patah hati karena ditinggal pergi kekasih hati. Lihat aku hari ini. Utuh. Raga dan jiwaku menyatu.
Mata ibuku menatap dengan tatapan kaget melihatku. Kubiarkan saja dia penasaran, aku ingin bergegas mandi. Senandung kecil terucap dari bibirku ketika siraman pertama kujatuhkan di kepalaku.
"Aku pergi dulu ya, Bu. Ke rumah Bagas." Cepat kuayunkan langkahku keluar rumah, ibu hanya mematung dari dapur saat aku membalikkan badan, melambai kepadanya. Aku hanya tersenyum.
Kukayuh sepeda yang kuambil dari garasi. Aku tak sabar ingin bertemu Bagas hari ini. Dia sahabat masa kecilku, hingga sekarang. Rumah kami tidak jauh, masih satu perumahan. Tak ada yang mengabariku bahwa dia telah pulang dari Singapura.
Kusandarkan sepedaku di pohon mangga. Kepalaku terangkat, menatap. Pohon itu sudah tinggi sekarang. Dulu aku sering memanjatnya dengan Bagas. Ahhh kenangan masa kecil itu begitu manis. Aku tersenyum.
"Udah bisa senyum sekarang?" Mendadak senyumku hilang, aku menoleh. Bagas berdiri menatapku sambil tersenyum. Meledekku, aku tahu makna senyum itu.
Tanpa ragu kuhamburkan pelukanku pada Bagas. Dia menimpalinya dengan mengelus rambutku. Merebahkan kepalaku di pundaknya. Hangat. Sesaat kami hanya diam. Tak peduli dengan sekitar.
"Mau di situ sampe sore, An. Ayo masuk." Ku lepaskan pelukanku dan merapikan jaketku yang berantakan. Tante Widya berdiri di teras pintu, melambaikan tangan memberi isyarat agar masuk ke dalam rumah.
Sedikit berlari aku ke arah tanta Widya, menyalami dan mencium telapak tangannya. "Kok tante gak bilang ke An sih, kalo Bagas pulang." Rengekku padanya.
"Gimana mau bilang sama kamu, kamu lama gak ke rumah tante."
"Eh iya ya, lama banget kayaknya An baru ke rumah ini lagi hehe." Aku tersipu malu mendengar ucapan tante Widya sembari mengikuti langkahnya menuju dapur.
Tiba-tiba langkahku tertahan, ada yang menarik tanganku. Aku menoleh. Kulihat Bagas memintaku diam dengan menaruh jari telunjuknya di bibir. Aku tahu tipuan apa ini. Kami sering melakukannya dulu.
Sedikit berjingkat ku balikkan arah dan tubuhku mengikuti Bagas. Dan ketika mulai agak jauh dari dapur kami berlarian menuju lantai atas. Kamar Bagas.
Aku tertawa lepas setelah Bagas menutup pintu kamar. Aku segera menjatuhkan tubuhku ke atas kasur empuk milik Bagas. Ku lihat Bagas masih tertawa setengah menunduk bersandar di pintu. Aku kembali tertawa.
Setelah puas dengan tawanya, dia menghampiriku. Merebahkan tubuhnya di sampingku. Kasur ini tak lagi muat untuk kami berdua. Dulu kami sering menghabiskan waktu libur sekolah dengan bermain monopoli di kasur ini.
Bagas, aku beruntung memilikimu. Kamu memang sahabat terbaikku. Kamu selalu menjadi penolongku, hingga kini. Entah akan bagaimana kita nanti, atau seperti apa masa depan kita. Aku tahu kamu tetap yang terbaik.
Aku Andrea miranda, si gadis dua puluh tahun yang patah hati karena cinta. Mengurung diri di kamar, seakan dunia tak lagi indah untuk di huni. Seakan semuanya berakhir.
Ternyata tidak dengan hadirnya sahabat dan orang terdekatmu. Jika waktu adalah penyembuh luka, maka sahabat adalah penghibur hati. Dari mereka kita tahu bahwa masa depan itu ada.
Yakin saja dulu. Sisanya biar Tuhan yang tentukan. Jalani saja dengan ikhlas, biarkan takdir membawamu kemana.
#day4
#30dayswritingchallenge
#tnb23
#titindeandiva
#TeeDee